Tampilkan postingan dengan label Oase Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 November 2014

Sekilas mengenai Prophet Parenting



Oleh: Muhammad Singgih*

B
agi orang tua, kehadiran anak merupakan dambaan dan impian bagi mereka. Hal tersebut menyempurnakan kebahagiaan setelah separuh agama yang diraih. Hadirnya keturunan, selain pelestarian klan keluarga juga merupakan pembuktian kesempurnaan anugrah Allah kepada setiap manusia. 

Rumah tangga tanpa kehadiran anak –meskipun tidak harus, rasanya terasa sepi. Dengan adanya anak, lelah pasca seharian kerja seolah sirna setelah melihat anak-anak di rumah. Tenaga yang habis di jalanan macet seolah terisi kembali setelah melihat senyuman anak-anak di rumah, bahkan si sulung yang gendut terasa enteng digendongan. Sedikit meminjam istilah ust Salim a fillah, seperti melihat seiris surga yang disiram madu, jika saat pulang tugas disambut senyum keluarga.
Bagi orang tua modern saat ini, kehadiran anak selain disikapi sebagai sebuah kebanggaan juga bisa dijadikan bahan eksitensi diri di media sosial. Sah-sah saja memang jika banyak yang upload foto hasil USG 4 dimensi nya atau sekedar update status “abis cek up di bidan Fulanah nih”. Tapi semoga para calon orang tua modern ini tidak lupa pada tuntunan Nabi Muhammad SAW dalam mempersiapkan kehadiran buah hati amanah Allah ini.
Di antara keutamaan dan kesempuranaan syariat Islam ialah memuat segala sesuatu. Termasuk diantaranya adalah penjelasan hukum berkaitan dengan menanti buah hati serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Alangkah indahnya masyarakat yang mampu melaksanakan syariat Allah di muka bumi ini dimulai dari keluarganya.

Dimulai dari bersyukur
Sungguh bahagianya duhai sepasang kekasih dibingkai cinta halal dan resmi setelah beberapa bulan mengarungi rumah tangga, tanda kehadiran buah hati mulai dirasa. Perut mual dan tidak enak badan diperkuat dengan hasil test pack dan pemeriksaan bidan senior di depan komplek perumahan. Maka hendaklah bersyukur kepada Allah atas nikmat tak terkira dari Nya. Dalam Al Quran, Allah mengisahkan tentang sepasang suami istri yang berdoa kepada Rabb nya tatkala sang istri sedang mengandung.
Allah berfirman:





 

“Dialah yang menciptakan kalian dari satu manusia dan menjadikan dari istrinya, agar dia merasa tenteram dengannya. Maka setelah dia mengumpulinya, istrinya mengandung kandungan ringan, terus merasa ringan beberapa waktu. Tatkala ia merasa berat, maka keduanya berdoa kepada Rabbnya, seraya berkata: “ sesungguhnya jika engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang yang bersyukur”, tatkala Allah memberi anak yang sempurna kepada keduanya, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak anak yang telah dianugerahkan kepada keduanya. Maha suci Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (QS, Al Araaf: 189-190)

Ayat tersebut di atas menunjukan hendaklah orang tua bersyukur kepada Allah sebagaimana keduanya berdoa kepada Allah tatkala bayi tersebut masih di dalam kandungan.


Semasa penantian dalam beratnya beban yang dibawa sang istri, atau amanah berat si suami berikhtiar kumpulkan materi sambil isi kajian di sana sini.

Suatu riset yang berangkat dari pengaruh kuat  kepercayaan masyarakat barat menyatakan bahwa, musik klasik alunan Mozart bisa menjadikan janin dalam kandungan kelak menjadi anak yang jenius dan cerdas. Maka masyarakat Indonesia seolah latah mengikuti terapi dan metode ini. Meskipun belakangan dalam studi termutakhirnya kepercayaan tersebut mulai dibantah. Jakon Pietschnig dari University of Vienna dalam riset berjudul Mozart Effect mengemukakan kesalahan besar musik melegenda ini. Dengan 3000 partisipator, hasil penelitiannya adalah tidak ada stimulus intelegensi apapun pada seseorang setelah mendengarkan musik mozart.
Bagi kita kaum muslimin ada cara jitu lain, membaca Al Quran merupakan suatu kewajiban yang harus kita jalankan. Tak terkecuali bagi calon ibu yang sedang mengandung janin calon jundullah di muka bumi. Maka membaca Al Quran saat mengandung sangatlah dianjurkan oleh kalangan ulama. DR Nurhayati dari Malaysia dalam penelitian yang dipublikasi dalam seminar konseling dan psikoterapi islam, mengungkapkan setiap suara atau sumber bunyi memiliki frekuensi dan panjang gelombang tertentu. Dan ternyata membaca Al Quran yang dibaca tartil sesuai  dengan ilmu tajwid mempunyai frekuensi dan panjang gelombang yang mampu mempengaruhi otak secara positif dan mengembalikan keseimbangan tubuh. Subhanallah. Maka membacakan Al Quran atau sholawat atas nabi bisa dilakukan selama masa menunggu kehadiran buah hati, selain bisa menenangkan jiwa, bacaan Al Quran bisa juga jadi makanan ruhani bagi bunda dan janinnya. Beruntunglah bagi temen-temen yang ketemu jodoh di komunitas ODOJ (One Day One Juz).
KH Fakhrudin Al Bantani dalam suatu kajian mengungkapkan, para ulama menganjurkan membacakan surat Yusuf atau surat Maryam semasa janin dalam kandungan. Alasannya adalah karena dalam kedua surat di atas mengandung ayat-ayat pendidikan yang sangat baik ditanamkan di masa awal pertumbuhan janin. Contohnya dalam QS Maryam ; 12-14



Dan bagi calon ayah, bekerja dan usaha mencari nafkah terasa menjadi lebih semangat, dobel. Menghitung hari jadi bulan menanti penerus nasab hadir ke muka bumi menjadi tentara Allah penegak syariat. Persiapan untuk biaya pra persalinan dan pasca persalinan yang tidak sedikit, membuat butir keringat yang mengkristal terasa ringan dan nikmat karena bernilai pahala di sisi Rabbnya. terkadang sepulang kerja masih ditunggu untuk mengisi kajian mentoring atau anak-anak TPA di sekitar rumah untuk melancarkan bacaan IQRA nya, menjadikan waktu istarahat tinggal sedikit. Saat itu nasyid shoutul harakah atau snada  bisa jadi teman melepas lelah.

Selamat menikmati masa tunggu kehadiran buah hati sambil tilawah dengan tajwid tepat, tartil dan suara merdu. Dan bagi yang masih menunggu calon ustadz/ustadzah di rumah mu kelak, selamat menunggu dalam ketangguhan menjaga syahwat bernilai jihad.

Saat ia hadir sambutlah dengan Adzan di telinga kanan dan Iqamat di telinga kiri
Dari ibnu Abbas, beliau mengatakan, “Nabi shallallahu alaihi wasalam adzan di telinga al Hasan Bin Ali pada hari beliau dilahirkan maka beliau adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri.”
Hadist populer di atas diriwayatkan oleh Al baihaqi dalam syu ‘abul iman dan juga Ibnul Qayyim dalam Tuhfatul maudud bi ahkamil maudud.
Meskipun ada sedikit perbedaan pandangan terhadap sunnah ini, namun hal tersebut bukanlah hal yang perlu diperuncing dan mendebat dalam simposium kusir panjang lebar. Di samping cukup populer dan membudaya di masyarakat Indonesia, menurut Ibnu Al Qayyim dalam Tuhfat Al Maudud fi ahkam al maulud, mengumandangkan Adzan dan Iqomah juga mempunyai beberapa hikmah, diantaranya adalah mengajarkan kepada sang bayi tentang kebesaran Tuhannya sekaligus meneguhkan kalimat tauhid dalam jiwanya semenjak dia dilahirkan ke dunia ini. Selain itu juga sebagai pelindung dari gangguan jahat setan dan jin yang selalu mengincar anak manusia.


Lalu di-tahnik, ah terdengar asing
Ada sunnah Rasul yang jarang kita dengar apalagi melaksanakannya di masyarakat. Tahnik  namanya, mengunyah sesuatu makanan lalu meletakannya di langit-langit mulut bayi. Biasanya makanan yang digunakan adalah kurma, jika tidak ada bisa diganti dengan  madu atau pisang, bisa juga yang lainnya. Dan dianjurkan orang yang men-tahnik bayi adalah orang yang memiliki keutamaan, kebaikan dan ilmu.
Dari Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata: anak lelakiku baru saja lahir, lantas aku membawanya kepada Nabi Shallalhu ‘alaihi wasalam, sesampainya di hadapannya, beliau Shallallahu ‘alaihi wasalam memberinya nama Ibrahim, lalu mentahnikya dengan kurma dan memohonkan keberkahan baginya, setelah itu beliau Shollallahu ‘alaihi wa salam serahkan lagi kepadaku” (HR Bukhari dan Muslim)


Beri nama yang baik dan jangan lupa Aqiqah
Diantara kewajiban orang tua atas anaknya adalah memberi nama yang baik, dalam pemberian nama sangat dianjurkan untuk minta saran dari murrabi atau orang sholeh yang kita kenal di sekitar rumah. Karena nama adalah doa dan memiliki makna harapan di masa mendatang, berilah anak nama yang baik. Jadi idiom barat tentang “apalah arti sebuah nama” sungguh sangat membingungkan.
Lalu tujuh hari pasca kelahiran, selain berikan nama laksanakan juga cukur rambut bayi dan aqiqah. Dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan seekor untuk bayi perempuan. Berangkat dari hadist berikut:
Dari Aisyah dia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)
Sejatinya banyak sekali tanggung jawab orang tua terhadap anaknya. Maaf, atau bahasa populernya afwan, fasal Walimatul tasmiyah, aqiqah dan i’dhzar (khitan) akan dibahas dalam ulasan berikutnya. Di lain kesempatan akan kita share juga soal pendidikan yang tepat bagi anak berdasarkan cara yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.
Semoga tulisan singkat ini bermanfaat, kemudahan dan kebenaran dalam penulisan ini adalah karunia dari Allah SWT, sementara kesalahan baik redaksi ataupun pemahaman adalah kelemahan saya dalam dangkalnya ilmu.

Daftar bacaan:
·         Kajian rutin KH Fakhrudin Al bantani
·         Blog: syiarislam.net
·         Muslimah.or.id
·         Terusbelajar.wordpress.com
·         Mulandari.wordpress.com
Semoga jadi amal jariah bagi mereka di atas.
»»  READMORE...

Sabtu, 15 Juni 2013

Karena Ku Cinta Baginda Nabi (part 2)


Oleh:
Muhammad Singgih




Teringat kisah Hamid, dalam serial TV itu. Betapa akhlaknya melangit, perilakunya terpuji. Bahkan ia sampai meminta izin untuk mengambil buku yang sudah dibuang oleh pemiliknya di tempat sampah. Betapa besar cintanya pada baginda Nabi, tingkah lakunya adalah cerminan cintanya. Mungkin sebagian pembaca ada yang pesimis, seraya berkata “mana ada sosok seperti itu di Indonesia, di zaman sekarang?. Di timur tengah, mesir atau arab mungkin banyak itu pun di zaman dahulu kala”. Demi Allah, besar harapan saya akan muncul sosok-sosok seperti Hamid yang kelak akan memimpin Indonesia yang sejatinya adalah sepenggal jannah. Semoga.

Mari lanjutkan perkenalan kita dengan Baginda Nabi.
Beliau orang besar, tak ada yang membantah. Hidup bersama pamannya sepeninggal wafat kakeknya. Menggembala kambing untuk melanjutkan hidupnya. Jauh dari hingar bingar politik, tetapi imajinasinya membangun sebuah kepemimpinan pada kambing-kambingnya seperti yang ia saksikan saat sang kakek memimpin makkah.
Beliau seorang panglima, administrator yang tak ada bandingnya dalam sejarah. Sepuluh tahun di Madinah, 30 an ghazwah beliau pimpin sendiri ditambah dengan 300 datasemen yang beliau bentuk. Dari segi jumlah saja, Napoleon Bonaparte, George Washington, atau Simon Bolivar tidak ada seujung kukunya.
Wibawanya berbeda dengan Kisra maupun Caesar. Bahkan Umar pernah menangis menyaksikan belilau tidur beralas tikar kulit kasar yang disusun rerumputan. “sungguh yaa Rasulullah, Kisra dan Caesar bersandar di atas bantal dan permadani suteranya, palayan pun hilir mudik melayani mereka, sementara kedudukanmua di sisi Allah jauh lebih mulia”. Begitulah kira-kira keluh Umar. “Apakah engkau tidak ridha melihat mereka mendapat dunia sedangkan kita menyimpan akhirat wahai Ibnul Khaththab”. Begitulah jawab Nabi dengan senyum termanis yang pernah disaksikan dunia.
Beliau adalah negosiator ulung, paling brilian. Ingatkah antum semua sengketa Hajar Aswad dan perjanjian Hudaibiyah adalah sedikit kiprahnya. Beliau juga melakukan korespondensi paling berani dengan berkirim surat kepada penguasa-penguasa sekelas Caesar atau pun kisra di zaman nya. Peristiwa ini pula lah yang belakangan bisa kita gunakan sebagai bantahan kaum Liberal pengusung pluralisme Agama, yang menyatakan semua agama benar menuju satu keselamatan.
Beliau adalah suami yang sempat mengajak istri balap lari. Atau meredakan kecemburuan sag istri dengan memencet hidungnya. Panggilan mesra Khumairaa pada Aisyah yang pipinya selalu merona merah. Di sela masa sibuk memimpin umat muslim, beliau sempat menambal baju, menggiling gandum bahkan memerah susu sapi untuk santapanya.
Begitu luwes, tidak kaku, pemimpin besar ini menjadi ayah yang menimang Ibrahim sang putera.
Beliau adalah teman duduk yang mengasyikan, candaannya tak pernah berbumbu dusta. “Wahai pemilik dua telinga!” panggilan pada Az Zubair yang membuat para sahabat lainnnya tergelak, tertawa. Penampilannya begitu sederhana, tak ingin berbeda dari sahabatnya. Tetapi tetap saja beliau selalu rapi, wangi, dan meyejukkan mata. Baginda Nabi, baru sebatas ini cinta kami pada mu...
Mari bersenandung bersama Raihan:
Terpadam api biara majusi
Runtuhlah istana kisra Parsi
Mekkah diterangi cahaya putih
Tanda lahir Nabi anak yatim.

Kepada semesta ia membawa Risalah Al Quran, Kalamullah yang dinuzulkan berangsur-angsur sejak dari bukit cahaya ‘jabal nur’. Pada malam qadar yang mengungguli seribu bulan, menggemakan Iqra menjadi tonggak peradaban, menyemaikan kata cinta, adil, setara, taat, merdeka, hak asasi, dan seterusnya.


Daftar pustaka:
Karena Ku Cinta Baginda Nabi (ust Habiburrahman el shirazy)
Kajian ahad pagi KH Fakhrudin Al Bantani
Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslim (ust Salim a Fillah)
Dll.
Semoga jadi sumber jariyah bagi penulis pribadi dan tiga tokoh di atas. Amin 
»»  READMORE...

Senin, 10 Juni 2013

Karena Ku Cinta Baginda Nabi (part 1)


        Mungkin sebagian teman-teman ada yang melihat serial TV beberapa waktu lalu yang berjudul “Karena Ku Cinta Baginda Nabi”. Film garapan Ust Habiburrahman El Shirazy ini cukup membuat perasaan tercampur aduk. Menceritakan seorang anak yang sedang dalam proses tahfidzul Quran. Dengan akhlak melangit bak malaikat, mengarungi kerasnya kehidupan, ditinggal wafat ayahnya dan kondisi ibunya yang buta.  Itulah tabiat kang abik yang senantiasa menampilkan tokoh-tokoh melangit yang diharapkan jadi panutan bagi anak negeri. Berbagai akhlak terpuji dilakukan oleh sang tokoh utama, seperti mengembalikan dompet milik orang kafir atau sekadar membantu orang tua yang kini jarang dilakukan oleh anak-anak masa kini. Di akhir cerita dijelaskan karena kecintaannya pada Nabi Muhammad SAW lah yang menyebabkan akhlak itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Terlepas dari cerita film di atas, saya ingin menyampaikan suatu artikel atau lebih tepatnya re share dari satu kajian mengenai sejarah singkat kehidupan Nabi Muhammad, tokoh panutan, nabi akhir zaman, dan pembawa risalah Al Quran.
Berangkat dari idiom tak kenal maka tak cinta, maka marilah kita mulai perkenalan singkat kita dengan sang Nabi. Agar kecintaan kita pada baginda Nabi semakin bertambah, sehingga bisa tercermin dari akhlak kita sehari-hari. Selain itu penulis juga ingatkan bahwa, wajib atas seseorang yang mukalaf usia 15 tahun berakal sehat untuk mengetahui Nama, tempat dan tanggal kelahiran, Nasab nabi Muhammad SAW terutama dari jalur ayahnya. Jika tidak tahu, maka berdosalah kita. atau paling tidak meski tidak menghafalnya kita tidak boleh membantah jika diberi penjelasan tentangnya.
Mari kita berkenalan dengan baginda Nabi.
Ialah Muhammad, beberapa literatur menyebutkan nama ini diberikan langsung oleh Allah SWT. sebelum alam ini, jagat raya ini tercipta. Bahkan ia menjadi sebab diciptakannya alam ini beserta isinya. Bahkan ia menjadi sebab diciptanya Iblis dan malaikat. Kurang lebih sekitar 200 nama dan gelar disematkan padanya –selain Muhammad, ia juga kerap disapa Ahmad atau gelar al amin yang disandangnya sejak masih muda.
Nabi Muhammad SAW lahir di Mekkah pada hari senin sebelum subuh tanggal  20 april 571 M atau 12 Rabiul Awal tahun gajah, tepatnya 50 hari setelah penyerbuan tentara gajah.  
Nasab Beliau.
Dari jalur ayahnya adalah sebagai berikut:
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaaf bin Qushay bin KILAB bin Murroh bin ka ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nudlor bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas  bin Mudlor bin Nizar bin ma’ad bin Adnan.
Sementara dari jalur ibunya adalah sebagai berikut:
Muhammad bin Siti Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin KILAB

Jadi Nasab ibu dan bapak Rasulullah bertemu pada kakek buyutnya yang bernama Kilab.  

Kisah tak terungkap
Berbagai kisah meliputi sepanjang perjalanan hidupnya yang tak terungkap atau kita yang tak mau belajar di majlis ilmu sehingga kisah-kisah bertinta emas tidak datang pada kita.
Adalah kakek nabi Abdul Muthalib yang merupakan ayah dari Abdullah (ayah Nabi) dan Abu Tholib (paman nabi). Suatu ketika saat Abdullah (ayah nabi) belum lahir, saat ia masih mempunyai sembilan anak, Abdul Mutholib pernah bernadzar ‘jika ia mempunyai anak lagi sehingga anaknya berjumlah sepuluh, maka ia akan menyembelih salah satu anaknya’. Tak disangka tak diduga, lahir lah Abdullah, ialah anaknya yang ke sepuluh. Maka nadzar adalah janji dan janji adalah hutang, fitrahnya lah untuk segera dilunasi.
Maka dilakukanlah semacam undian untuk menentukan siapa yang dikorbankan dan disembelih untuk melunasi nadzar tersebut. Konon inilah asal muasal diadakannya arisan, bedanya adalah.. ah tentu pembaca bisa terka sendiri. Setelah dilakukan beberapa kali berturut-turut nama yang keluar adalah Abdullah (ayah Nabi). Sehingga diputuskan Abdullah yang akan dikorbankan.
Mengingat Abdul Mutholib adalah tokoh panutan, orang penting pada strata kehidupan masyarakat qurais dikhawatirkan kegiatan semacam ini akan diikuti oleh masyarakat dan membudaya. Oleh sebab itu dilakukan lah perundingan dan diupayakan bisa ditebus dengan obyek yang lain. Setelah perundingan dan konsultasi dengan pemuka agama setempat, maka diputuskan untuk menggantinya dengan 100 ekor unta. Dan inilah asal muasal dasar hukum membunuh seseorang dengan tidak sengaja.
Nabi pernah berkata, dia adalah keturunan dari dua orang yang hendak disembelih namun batal, tidak jadi.

Abdullah adalah sosok pria yang shalih, ia tampan bahkan beberapa literatur menyebutkan hampir sekualitas nabi Yusuf as. Ketika akhirnya memilih Siti Aminah gadis suci anggun nan shalihah, 200 orang wanita cantik sekualitas Syahrini atau pun Luna Maya stres dan memilih mengakhiri hidupnya.
Ketika menikah, dan menjalani ibadah farji nya, langit dan bumi ramai menjadi gaduh. Hewan-hewan ribut dan konon mereka berbicara dengan bahasa arab “hari ini nabi akhir zaman ada di rahim wanita muslim” begitu suaranya.

Sekilas kisah hidup Baginda Nabi
Nabi Muhammad SAW menjadi yatim saat dua bulan dalam rahim Siti Aminah, ayahnya –Abdullah wafat saat hendak pergi berbelanja ke Madinah. Sedangkan ibunya wafat pada saat nabi Muhammad berusia 6 tahun saat perjalanan untuk jiarah ke makam ayahnya. Jadilah sang nabi Muhammad yatim-piatu. Kisah sedih tak sampai disini, nampaknya Allah SWT sedang menguji hamba pilihannya. Usia 8 tahun kakeknya Abdul Mutholib dipanggil oleh Allah.
Dalam kesedihan kesengsaraan, beliau tumbuh menjadi orang hebat, Nabi akhir zaman. Kenabiannya diramalkan oleh seorang rahib saat nabi istirahat siang, nabi Muhammad duduk di bawah pohon yang sama dengan pohon yang disinggahi oleh nabi Musa as. Di usia 12 tahun beliau tumbuh menjadi manajer unit usaha internasional Abu Thalib hingga ke Syams. Dialah kunci sukses kafilah dengan kejujurannya. Usia 26 ia menjadi pengelola utama bisnis besar yang di investasikan oleh Khadijah. Dia enterpreneur dengan sifat nabawi: jujur, kapabel, smart, informatif.

Bersambung ke part 2..... AFWAN

Daftar pustaka:
Karena Ku Cinta Baginda Nabi (ust Habiburrahman el shirazy)
Kajian ahad pagi KH Fakhrudin Al Bantani
Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslim (ust Salim a Fillah)
Dll.
Semoga jadi sumber jariyah bagi penulis pribadi dan tiga tokoh di atas. Amin

»»  READMORE...

Jumat, 20 Juli 2012

Indikasi Gagal Meraih Keutamaan Ramadhan

Alhamdulillah, Allah swt kembali memberi kesempatan pada kita untuk bertemu dengan Ramadhan Mubarak. Bulan yang di dalamnya segala keberkahan Allah curahkan kepada hamba-hamba yang beriman.

Allah swt memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, agar menjadi insan yang bertaqwa. Sebagaimana firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS.Al Baqarah : 183)

Tentu setiap kita ingin mendapatkan kesuksesan hakiki di bulan Ramadhan dengan predikat taqwa yang melekat pada diri. Segala daya upaya dikerahkan agar cita-cita mulia menjadi generasi muttaqin dapat diraih jika Ramadhan berlalu.

Namun, banyak diantara kita yang ternyata gagal mendapatkan kemuliaan Ramadhan yang sejatinya begitu luas terbentang. Perlu kewaspadaan, sebab, terkadang hal-hal berikut ini tanpa kita sadari menjadi penyebab gagalnya kita meraih keutamaan Ramadhan:

Kurang Persiapan

Banyak Ramadhan terlewat karena kelemahan yang disebabkan kurangnya persiapan kita di bulan Sya’ban. Misalnya, tidak membiasakan diri bangun di malam hari untuk Qiyamullail. Atau tidak melakukan puasa Sya’ban sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw. Jika ibadah-ibadah tersebut tidak kita biasakan di bulan-bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan, terutama pada bulan Sya'ban, niscaya akan terasa berat diri kita untuk beribadah dengan maksimal di bulan Ramadhan.

Menunda Pelaksanaan Shalat Fardhu

Allah swt berfirman:

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,” (QS.Maryam : 59)

Menurut Said bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat (meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya setelah adzan berkumandang.

Malas Melaksanakan Ibadah Sunnah

Betapa merugi hamba yang tidak gemar melaksanakan ibadah-ibadah sunnah di bulan Ramadhan. Sebab di bulan mulia ini, pahala yang Allah berikan untuk ibadah sunnah yang kita lakukan adalah senilai dengan pahala ibadah wajib di bulan selain Ramadhan.

Bahkan dalam sebuah Hadits Qudsi Allah swt berfirman:

“Dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan senantiasa seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya,”

Kikir dan Rakus Harta Benda

Salah satu sasaran utama diperintahkannya berpuasa adalah agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan, minum, maupun pada harta benda. Oleh karena itu, berinfaq, sedekah, termasuk di dalamnya memberi makan orang yang berpuasa adalah amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan karena mempunyai nilai yang amat tinggi di sisi Allah.

Namun apabila di bulan mulia ini masih saja menjadikan kita kikir berbagi kepada sesama, maka alangkah meruginya kita karena termasuk dalam golongan orang-orang yang gagal meraih keutamaan Ramadhan.

Malas Membaca Al Qur’an

Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an. Orang-orang shalih di setiap masa menghabiskan waktunya baik siang maupun malam di bulan Ramadhan untuk membaca Al Qur’an.
Rasulullah saw bersabda:

“Ibadah umatku yang paling utama adalah membaca Al Qur’an.” (HR.Baihaqi)

Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al Qur’an sebagai pedoman hidup. Jangan sampai kita gagal meraih keutamaan Ramadhan hanya karena malas membaca Al Qur’an.

Mudah Marah

Rasulullah saw bersabda:

“Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang di antaramu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa’.”

Ramadhan adalah bulan kekuatan. Rasulullah saw bersabda:

“Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah.”

Gemar Bicara Sia-sia dan Berdusta

Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan Az-Zur (persaksian palsu), maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR.Bukhari)

Umar ra. Berkata, “Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia.”

Memutus Silaturrahim

Ketika menyambut datangnya Ramadhan, Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa menyambung tali persaudaraan di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya, pada hari ia berjumpa dengan-Nya.”

Menyia-nyiakan Waktu

Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura.

Rasulullah saw bersabda:

"Diantara tanda kesempurnaan iman seseorang ialah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya." (HR.Tirmidzi)

Abai Pada Malam Lailatul Qadr

Sudah umum terjadi pada kebanyakan orang, saat hari-hari terakhir Ramadhan justru menjadi hari-hari sibuk untuk mempersiapkan hari raya. Hari-hari dihabiskan untuk ber-'thawaf' di mal-mal demi berburu kebutuhan hari raya. Malam-malamnya pun dihiasi dengan kesibukan menyiapkan kue-kue lebaran.

Sungguh meruginya. Padahal di sepuluh hari terakhir Ramadhan, pada satu malamnya terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, yakni Lailatul Qadr.

Namun kebanyakan orang sering abai dengan hal ini, dan menggesernya dengan berbagai keperluan duniawi yang sebenarnya bisa dipersiapkan jauh-jauh hari, bahkan sebelum Ramadhan tiba.

Inilah diantara hal-hal yang dapat menggagalkan Ramadhan kita. Semoga kita semua dijauhkan dari hal-hal yang dapat menggagalkan upaya kita dalam meraih keutamaan Ramadhan. Dan semoga Allah swt memberi kita kekuatan untuk meraih kesuksesan hakiki, sukses menjadi generasi muttaqin. Wallahu’alam Bi Showwab.
(Haifa Ramadhan/ dari berbagai sumber)
Repost dari SuaraIslam online
»»  READMORE...

Jumat, 13 Juli 2012

Tidak Ada Pekerjaan Tetap, tetapi Tetap Bekerja

DI MASJID komplek tempat saya tinggal, jamaah shalat dhuhurnya kini hampir sama banyaknya dengan shalat fardhu lainnya. Kok bisa? Bukankah penghuninya pada ke kantor di siang hari? sebagiannya memang demikian, tetapi cukup banyak yang mulai bekerja di rumah.  Yang pada bekerja di rumah ini sebagian memiliki pegawai beberapa orang, maka mereka inilah yang ikut meramaikan masjid di siang hari selain penghuni komplek sendiri.
Awalnya orang yang melihat kami siang-siang pada sarungan ke masjid, sering bertanya ‘apakah Anda tidak bekerja?’, maka sambil berseloroh kami punya jawaban yang khas untuk ini: “Kami ini adalah orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap, tetapi kami tetap bekerja!”.

Inilah paradigma baru yang rupanya menular di komplek kami tinggal. Belasan tahun lalu ketika saya mulai masuk komplek ini, saat itu hampir semua orang bekerja di kantor sehingga masjid sepi ketika siang hari. Kini hampir berimbang antara yang bekerja di kantor dan yang di rumah. Sebagian karena usia pensiun, sebagian karena memutuskan untuk berwirausaha sebelum usia pensiun tiba, sebagian lain memang dengan bantuan teknologi kini bisa bekerja dari rumah.

Ada budaya baru yang menarik yaitu orang-orang sarungan atau pakai baju gamis ke masjid siang hari – padahal mereka orang-orang yang sibuk. Kok bisa? Kapan mereka berganti sarung atau gamisnya? Mereka tidak perlu berganti!, karena ketika mereka bekerja di rumah, tidak lagi diperlukan pakaian formal – sarungan atau bergamis-pun jadi.

Yang ikut saya rasakan adalah bahwa ketika kita tidak lagi terkendala waktu (bekerja harus pada waktu-waktu tertentu), tidak terkendala ruang (bekerja harus berkantor), tidak terkendala formalitas (bekerja harus pakai pakaian resmi, berdasi atau bahkan ber jas) maupun kendala-kendala lainnya,  maka pengaruhnya adalah pada kreativitas dan kebebasan kita untuk berpikir.

Saya misalnya, tidak kebayang dalam profesi saya yang lama ketika bekerja harus pada jam kerja pergi ke kantor di pusat kota dengan berdasi dan berjas – tetapi pada saat yang bersamaan juga mengurusi peternakan kambing di lapangan, atau berganti sarung untuk shalat dhuhur di masjid. Jangankan shalat khusu’ di masjid, shalat tepat waktu saja tidak selalu mudah bagi orang-orang kantoran.

Belenggu ruang dan waktu kerja, belenggu pakaian dan formalitas lainnya terkadang ikut membelenggu kebebasan berpikir kita dan membatasi ruang gerak kita. Istilah ‘pekerjaan tetap’ – yang dahulu menjadi kebanggaan calon mertua bila sang calon menantu sudah memilikinya, mungkin waktunya untuk direnungkan kembali sekarang.

Bila Anda memiliki ‘pekerjaan tetap’ sampai Anda pensiun, bukankah ini berarti Anda sudah memutuskan untuk diri Anda sendiri tetap sebagai pegawai sampai usia pensiun ?. Bukankah ini akan memasukkan Anda menjadi bagian dari 9 orang dari 10 orang yang tidak siap ketika pensiun tiba?

Yang jelas tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk berhijrah dari kwandrant E (Employee) ke S (Self Employed), B (Business Owner) atau bahkan I (Investor), tetapi bila Anda tidak mencobanya selagi muda – toh Anda kemungkinan juga harus menghadapinya ketika usia pensiun Anda tiba !, jadi mencobanya lebih cepat insyaallah akan lebih baik.

Yang perlu di sadari adalah bila Anda sudah di kwadrant S, B atau I , pekerjaan Anda juga tidak akan lebih ringan dari pekerjaan di kwadrant E. Terutama di awal-awal usaha, bisa jadi Anda perlu bekerja siang malam dan tidak mengenal hari libur. Bahkan ketika sukses-pun  menghampiri Anda, sukses ini tidak bersifat permanen – Anda tetap harus bekerja keras untuk mempertahankannya atau bahkan mencapai puncak sukses berikutnya.

Sebaliknya juga ketika Anda gagal, kegagalan ini tidak harus bersifat final yang membuat Anda berhenti mencoba. Anda harus terus mencobanya karena kegagalan-kegagalan inilah yang nantinya justru menempa kwalitas Anda.

Di kwadrant S, B ataupun I, jadinya Anda memang tidak memiliki pekerjaan tetap – tetapi Anda tetap harus bekerja! Wa Allahu A’lam.
Repost dari Hidayatullah.com
»»  READMORE...

Kamis, 12 Juli 2012

Penelitian ilmiah pengaruh bacaan al Qur’an pada syaraf, otak dan organ tubuh lainnya.

(Arrahmah.com) - "Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Al-Qur'an...".
Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.
Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan.
Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.
Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur'an.
Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur'an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur'an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur'an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur'an.
Al-Qur'an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur'an dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.
Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Al-Qur'an. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Al-Qur'an lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur'an memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).
Mahabenar Allah yang telah berfirman, "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat" (Q.S. 7: 204).
»»  READMORE...