Sabtu, 07 Juli 2012

Meraup Dosa Dengan Jilbab

Pernahkah kita berpikir mengapa begitu banyak perempuan dan wanita muslim yang mengenakan ‘jilbab’, namun berpakaian sangat ‘provokatif,’ misalnya menampakkan lekuk-lekuk kemolekan tubuhnya? Fungsi jilbab yang semestinya diarahkan untuk menutupi aurat, seperti dada dan pinggul, justru malah diabaikan.(Na’udzu billah)

Sejatinya, penutup kepala seperti itu bukanlah jilbab dalam perspektif hijab yang disyariatkan Islam. Orang-orang lebih menyebutnya dengan “kerudung gaul”. Atau diistilahkan Milasari Astuti –dalam artikelnya di sebuah situs Islam— dengan istilah “jilbab cekek”, karena memang benar-benar hanya sebatas nyekek leher. Maksudnya, seorang perempuan muslim mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan rambutnya, namun berpakaian tipis, transparan, atau ketat sehingga menampakkan lekuk tubuhnya. Semisal, kepala dibalut kerudung atau jilbab, namun berbaju atau kaos ketat, bercelana jean atau legging yang full pressed body, dan lain sebagainya.
Fenomena kerudung gaul atau jilbab cekek adalah fenomena yang sangat membingungkan bagi setiap muslim atau muslimah yang memahami ajaran Islam dengan benar. Ini mengingat, seorang perempuan atau wanita muslim yang mengenakan kerudung gaul, dalam benaknya dia ingin menutup aurat, namun juga ingin tampil pamer modis dan cantik.
Beberapa gelintir perempuan berkomentar, “Lho, masih mending memakai kerudung atau jilbab gaul, daripada tidak sama sekali?!” Yang lainnya menyatakan, “Ini kan masih belajar untuk menutup aurat.” Ya, kerudung gaul selalu dianggap lebih baik daripada tidak menutup aurat sama sekali. Atau juga dianggap sebagai sebuah proses belajar menutup aurat. Pernyataan-pernyataan tersebut sekilas tampak benar, namun sejatinya sungguh keliru. Karena seorang muslim diharuskan untuk menjalani setiap perintah syariat secara total atau kaffah.
Kepada para muslimah Allah swt telah dengan tegas memberi perintah agar menutup auratnya dengan jilbab. Sebagaimana firman-Nya:

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (T.QS. Al Ahzab:59)

Sebagaimana pernah dibahas dalam artikel di rubrik yang sama dengan judul “Muslimah Modis, Why Not?”, yang dimaksud jilbab dalam ayat ini adalah baju terusan panjang yang diulurkan ke seluruh tubuh. Ingat, seluruh tubuh, bukan tubuh bagian atas sepotong, ditambah bagian bawah sepotong. Melainkan adalah model pakaian yang langsung menutupi seluruh tubuh, dari atas hingga bawah. Nah, kebanyakan kita biasa menyebutnya gamis.

Perintah tentang pentingnya menutup aurat ini juga dengan gamblang terdapat dalam firman Allah swt:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (T.QS.An Nuur:31)

Jelas sudah bukan, bahwa menutup aurat bagi para muslimah adalah kewajiban syariat yang tak terbantahkan. Meninggalkannya kita berdosa. Menjalankannya kita raup pahala.

Yang Berdosa Karena Jilbab

Jika perintah berjilbab itu turun dari Allah swt, tentu mentaatinya akan berbuah pahala. Akan tetapi, sebagai muslimah kita harus waspada. Sebab, jilbab tak selalu mendatangkan pahala dan keridhoan Allah. Tapi justru sebaliknya, dengan jilbab kita dapat terjerumus ke lubang dosa.

Banyak diantara kita yang merasa dirinya telah menutup aurat dengan mengenakan jilbab. Ada yang pergi ke sekolah dengan rok dan atasan serta kerudung yang dililit di leher. Ada juga yang pergi ke kampus dengan celana jeans dan kaos ketat serta kerudung yang lagi-lagi dibuat mencekik leher. Tak mau kalah para muslimah karier yang pergi ke kantor dengan jilbab gaul ditambah semprotan parfum yang luar biasa wanginya. Dengan itu, semua merasa telah menutup aurat. Semua juga telah merasa mengenakan jilbab.

Tapi benarkah yang demikian yang dituntut oleh syariat agar diterapkan? Atau justru yang demikian itulah yang dapat menambah deretan panjang dosa-dosa kita?

Para muslimah, mari kita waspada. Inilah hal-hal yang dapat menjadikan jilbab kita sebagai ajang meraup dosa:
1.Jilbab Dengan Bahan Tipis dan Transparan
Mengenakan jilbab dengan bahan yang tipis memang terlihat modis. Ya, rata-rata bahan pakaian yang tipis akan menjadi model busana yang ‘jatuh’ menjuntai. Belum lagi jika kita tinggal di daerah yang notabene berhawa panas. Jilbab dengan bahan tipis menjadi pilihan yang nyaman dipakai. Tapi sadarkah para muslimah, jilbab dengan bahan tipis dan transparan ini adalah kriteria jilbab yang dapat menjerumuskan kita ke dalam dosa. Untuk kategori pakaian yang seperti ini, Rasulullah menyebutnya dengan istilah “Berpakaian tapi telanjang” sebagaimana sabda beliau:

“Dua golongan ahli neraka yang tidak pernah aku lihat: seorang yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang dia memukul orang-orang, dan perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepalanya bagaikan punuk unta yang bergoyang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan baunya, sekalipun ia bisa didapatkan dari jarak sekian dan sekian.”
(HR. Muslim)

2.Jilbab Ketat
Turunnya ayat yang mewajibkan muslimah berjilbab diantaranya adalah agar lekukan-lekukan tubuhnya dapat tertutup sempurna sehingga ia terbebas dari fitnah. Akan tetapi, hal ini tidak mungkin terwujud jika muslimah bermaksud menutupi auratnya dengan pakaian yang ketat. Meski terkadang pakaian seperti ini menutupi warna kulit, namun tetap saja pakaian ketat dapat menampakkan seluruh lekuk tubuh atau sebagiannya.

3.Jilbab Berparfum
Dari Abu Musa Al-Asyari bahwasanya ia berkta Rasulullah bersabda :

“Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.”
(HR. An-Nasai II:38,Abu dawud II:92, At-Tirmidzi IV:17, At-Tirmidzi menyatakan hasan shahih)

Perlu diketahui, di dunia barat sekuler, salah satu “fungsi” parfum adalah sebagai alat seducing man (menggoda laki-laki). Begitulah mudharat parfum yang dipakai oleh perempuan (ketika keluar rumah).

4.Jilbab Yang Menyerupai Pakaian Lelaki
Tidak asing dalam keseharian kita dapati muslimah yang merasa diri telah menutup aurat dengan celana jeans yang ketat, dipadu kemeja atau kaos lengan panjang, dan kerudung yang sekedar menutup kepala tanpa menjuntai hingga dada sebagaimana perintah Allah dalam Qur’an surat An Nuur ayat 31. Sedangkan hingga belahan dunia mana pun terlebih di Indonesia, kita mendapati bahwa celana dan kemeja adalah pakaian kaum lelaki.

Oleh karena itu, jika kita dapati muslimah dengan paduan busana yang demikian, maka sebenarnyalah ia sedang tampil menyerupai kaum laki-laki. Sedangkan Abu Hurairah berkata: “Rasulullah saw melaknat lelaki yang memakai pakaian yang menyerupai pakaian wanita, dan melaknat wanita yang memakai pakaian yang menyerupai pakaian lelaki.”

5.Jilbab Yang Menyerupai Wanita-wanita Kafir
Semakin pesatnya perkembangan mode --beberapa mengklaim sebagai mode busana muslimah-- menuntut kewaspadaan kaum muslimah. Pemahaman yang benar tentang jilbab yang memenuhi kaidah yang ditetapkan oleh hukum syara mutlak dimiliki oleh setiap muslimah. Jika tidak, alih-alih ingin mengenakan jilbab, ternyata pakaian yang kita kenakan justru menyerupai pakaian wanita-wanita kafir. Na’udzubillah. Sedangkan Abdullah bin Amru bin Ash berkata:
“Rasulullah melihat saya mengenakan dua buah kain yang dicelup dengan warna ushfur, maka beliau bersabda: Sungguh ini merupakan pakaian orang-orang kafir maka jangan memakainya”
(HR. Muslim 6/144, hadits Shahih)

Jelas bukan, jilbab seperti apa yang dapat menjerumuskan muslimah dalam dosa. Selain pemahaman yang benar akan ketentuan berjilbab yang sesuai dengan hukum syariat, tentunya penting bagi muslimah untuk terus berada dalam lingkaran saudara-saudara seiman yang tak lelah mengkaji dan mengaplikasikan ilmu-ilmu Allah. Agar muslimah dapat senantiasa istiqomah menjalankan syariat Allah, juga agar muslimah tidak menjadi sasaran musuh-musuh Islam yang tak henti-hentinya mempropagandakan hal-hal yang dapat merusak pemahaman terlebih keimanan kita. Tak terkecuali dalam hal berbusana. Wallahu’alam bi showwab.



 repost artikel dari Suara Islam.com
»»  READMORE...

Jumat, 06 Juli 2012

Indonesia Halal EXPO 2012 Resmi Dibuka



Menko Kesra, Agung Laksono (kanan) didampingi Lukmanul Hakim (Ketua LPPOM MUI, kedua kanan) dan Amidhan (Ketua MUI, kiri)berbincang dengan Romuald Morawski (First Counsellor Embassy of The Republic of Poland, kedua kiri) saat mengunjungi stan Republik Polandia yang ikut berpartisipasi dalam Indonesia Halal Expo (INDHEX) 2012 pada Kamis (5/7) di gedung SMESCO, Jakarta.

Acara yang berlangsung mulai 5-8 Juli 2012 ini diikuti oleh 130 peserta pameran dari dalam dan luar negeri. Sebelumnya juga telah dilangsungkan International Training on Halal Assurance System yang diikuti oleh lembaga-lembaga sertifikasi halal dari luar negeri, antara lain Filipina, Thailand, Korea, Singapura, Jepang , China, Emirat Arab, India, Qatar, Perancis, dan Swiss.

Untuk memberikan kemudahan di bidang pelayanan, LPPOM MUI juga telah menerapkan layanan sertifikasi halal berbasis web melalui CEROL-SS 23000, yang memungkinkan pelayanan sertifikasi halal dapat dilakukan secara transparan dan efisien

Sebagai rangkaian dari kegiatan INDHEX 2012, LPPOM MUI juga menggelar Global Halal Forum, berupa pertemuan para pelaku usaha dari dalam dan luar negeri untuk saling bertukar informasi mengenai bisnis halal. Selain itu juga ada World Halal Food Council(WHFC) Meeting, pertemuan anggota Dewan Pangan Halal Dunia yang dihadiri delegasi lembaga-lembaga sertifikasi halal luar negeri dan Anugerah Halal 2012, penghargaan  yang diberikan kepada perusahaan, perorangan, lembaga pendidikan dan media massa, yang dinilai berkontribusi positif dalam membangun, menginformasikan dan mensosialisasikan halal. Anugerah Halal ini merupakan  kerjasama MUI dengan Kementerian Agama.

LPPOM MUI berharap dengan adanya INDHEX ini semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai Pusat Halal Dunia, yang telah dicanangkan oleh Menteri Koordinator Perekonomian RI, Hatta Rajasa. (M Zakir Salmun)

repost dari ERAMUSLIM.COM
»»  READMORE...

Kamis, 05 Juli 2012

Saatnya menimba ilmu di "universitas Ramadhan"

BEBERAPA hari lagi, bulan Ramadhan akan tiba.  Bulan mulia ini  karena telah mendapatkan kehormatan sebagai tuan rumah kehadiran tamu mulia bernama al-Qur'an. 
Untuk turun secara keseluruhan dalam satu kitab atau turun pertama kalinya dalam lima ayat Surat al-'Alaq --yang pertama disebut lailatul qadri, dan kedua nuzulul Qur'an-- bulan Ramadhan lah yang terpilih sehingga di dalamnya menjadi mulia, barakah, dan benih rahmat.

Soal pilih memilih itu tidak ada hubungannya dengan prestasi atau amal shalih yang pernah dilakukan oleh bulan Ramadhan. Semua itu semata-mata atas kehendak Allah swt. Ramadhan memang bernasib baik.
Tentu, kita ingin bernasib seperti itu, yakni dipilih Allah sebagai tempat turun wahyu al-Qur'an. Kita ingin al-Qur'an turun pada diri dan sanubari kita dalam bentuk hidayah dan taufiq. Bukan sebatas dalam bentuk bacaan, hafalan, dan pemahaman, sekalipun ketiganya sebenarnya penting dalam rangka meraih hidayatullah (petunjuk-Nya). Hanya saja jika ketiga hal itu mandeg di tengah jalan tanpa melangkah pada jalan Allah, tingkat kemunafikan kita semakin berbobot dan sulit beralih menjadi muslim kaffah.
Oleh karena itu sesungguhnya kita mesti banyak berguru kepada bulan Ramadhan. Berada di bulan itu anggap saja kita berada di sebuah perguruan tinggi, Universitas Ramadhan. Selama sebulan penuh kaum Muslimim menjalankan masa pendidikan di 'fakultasnya' masing-masing sesuai bakat, kemampuan, dan peran yang diemban. Kita memang sama beriman, tetapi tugas dan kualitas tentu berbeda. Yang sama adalah semangat dan ambisi kita untuk diwisuda oleh Allah dengan gelar muttaqin.
Lantas kita rayakan kemenangan itu di hari Lebaran, ber-'Idul Fitri. Sembilan kali Rasulullah dan segenap ummat Islam zaman itu merayakan hari raya 'Idul Fitri. Dari hari raya ke sembilan, Rasulullah dan kaum muslimin merasakan puncak kemenangan lahir dan batin.
Menang bukan hanya dalam pengertian individual berupa tunduknya hawa nafsu dalam kekuasaan dirinya yang fitrah, tetapi juga kemenangan komunal di kota Makkah berupa tunduknya orang-orang kafir di pusat kekuasaan mereka sendiri. Kemenangan itu amat mulus dan indah tanpa sepercik darah pun menetes.
Sudah sejak lama kita merindukan kemenangan 'Idul Fitri sebagaimana yang pernah dialami ummat Islam di zaman Rasul itu. Selama ini kedukaan senantiasa mengiringi saat-saat kita ber-'Idul Fitri. Ummat Islam telah menjadi bulan-bulanan dan maf'ul bih (obyek) bagi kaum kafirin.
Dalam pengertian individual, bisa saja seseorang merayakan 'Idul Fitri dengan perasaan bahagia tanpa terselip duka. Hal itu agaknya layak, karena sebulan suntuk sebelumnya ia telah mati-matian bertarung melawan nafsu iblisiyah, dan bersyukurlah bisa menang.
Yang menjadikannya merasa belum puas adalah, karena ia sebenarnya masih terus berfikir tentang nasib ummat Islam secara keseluruhan yang belum menggembirakan. Orang-orang kafir masih leluasa mempermainkan kaum muslimin sesuka hati. Mentang-mentang mereka sedang unggul di banyak hal, aspek ekonomi, sosial politik, budaya, dan iptek. Dari Somalia, Iraq, Afghanistan, China, Myanmar, ummat Islam sedang berada dalam cobaan.

Menyaksikan kebiadaban anak buah Qabil dan kehinaan orang Islam menghadapinya, kita bisa menjadi marah luar biasa. Kemarahan dan kebencian bagitu memuncak, sampai-sampai kita jadi lupa tentang masalah mendasar yang sebenarnya.

Benarkah derita ummat Islam selama ini diakibatkan oleh polah tingkah ummat kafirin? Jangan-jangan kejahatan dan kebejatan orang kafir terhadap orang Islam itu hanya akibat saja dari ulah perilaku ummat kita sendiri.

Kita sendirilah yang menyebabkan keadaan layak-hina itu. Justru bila pujian dan keseganan yang kita peroleh dari kaum kafirin, kita akan merasa mendapatkan ejekan yang lebih menyakitkan. Sementara harapan Allah sebenarnya begitu besar kepada ummat Islam yang hidup dengan membawa nama-Nya.

Tentu seharusnya ummat Islam tampil baik, karena melangkah di jalan Allah dan dalam petunjuk-Nya. Ya, semestinyalah penampilan ummat Islam mencerminkan pribadi sebagai orang yang bertaqwa, sebagai muttaqin.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِي
“Harapan itulah yang hendak dicapai dengan puasa di bulan Ramadhan sebagaimana sering dititipkan khatib pada setiap khutbah Jum'at. Jika gelar taqwa teraih, niscaya Allah akan memuliakan jama'ah muslimin: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu." (Al- Hujurat: 13)

Jika Allah memuliakan hamba-Nya tak akan mungkin orang-orang kafir melecehkan. Itulah yang terjadi pada jaman Nabi dan para sahabat. Bukan saja Allah memuliakan mereka, orang kafir pun dibuat segan. Padahal ummat Islam saat itu masih ketinggalan di bidang ekonomi dan teknologi. Tetapi karena memiliki kekayaan di bidang aqidah, istiqamah, dan jihad, keunggulan pun mereka dapatkan.

Sekarang kekayaan apakah yang bisa membuat kita berwibawa dan tidak hina di hadapan Allah dan orang-orang kafir? Jawabannya, al Qur'an.

Tapi apakah arti al-Qur'an di depan orang-orang yang tidak yakin akan kemukjizatannya? Ibarat Musa yang menggenggam tongkat mukjizat, tapi ia sendiri masih ragu-ragu akan khasiatnya. Maka tongkat itu tak bermanfaat apa-apa dalam menghadapi ular-ular tukang sihir.

Orang yang yakin kebenaran al-Qur'an akan menampilkan bukti berupa membaca, mempelajari, memahami, menghayati dan mengamalkannya sesuai contoh perjalanan Nabi Muhammad saw.

Berguru kepada bulan Ramadhan berarti berguru kepada al- Qur'an. Akrab dan bercumbu dengan Ramadhan berarti cinta kepada al-Qur'an. Karena al-Qur'an turun di bulan suci itu sebagaimana dikisahkan dalam surah al-Baqarah 185 yang telah dikutip di atas.*/Diadaptasi dari tulisan (alm) Moch. Chusaini, mantan Redaktur Al-Qalam

Re post dari Hidayatullah.com
»»  READMORE...