Senin, 03 Maret 2014

Syaikh Abu Zahrah bicara Illat dan Hikmah

Oleh
Muhammad Singgih 

Dalam suatu seminar sarasehan Jilbab Syari di suatu kampus (bukan kampus Saya lho meskipun kampus saya..... ah sudahlah), untuk merumuskan ketentuan busana muslimah mahasiswinya, terjadilah perbincangan hangat yang timbulkan hasrat untuk posting tulisan ini. Sekaligus tunaikan janji pada teman-teman FB dan Twitter. Singkat kisah, diskusi berjalan menarik. Narasumber menceritakan perjuangannya saat kuliah di Amerika dalam berbusana muslimah. Ekspresi pejuang jilbab pada dirinya terasa saat ia menampilkan puisi The Way not Taken nya Robert Frost dalam slide pertamanya.
Tugas Liberal adalah bertanya
Salah seorang audiens dengan pertanyaan serius berbekal (kalo ngga salah) kitab Lubaabun Nuqul fii Asbaabin Nuzuul (Imam As Suyuthi) melontarkan pertanyaan canggih: “Kalau kita baca latar belakang turunnya Surat Al Ahzab 59, maka kita akan menemukan konteksnya.
Hai Nabi,katakanlah pada istri- istrimu,anak-anak perempuanmu dan istri-istri
orang mukmin:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.”Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.33 al-Azhab:59)r
“Pada waktu itu, ada seorang muslimah yang diganggu oleh beberapa pemuda. Maka dia mengadu pada Rasulullah SAW, hingga beliau memanggil mereka. Ketika ditanya mengapa mengganggu, mereka menjawab bahwa muslimah itu tidak menunjukan ciri muslimah, tak dikenali entah merdeka atau budak. Maka turunlah ayat ini yang konteksnya adalah identitas dan perlindungan. Jadi intinya bukan jilbabnya, tapi agar ia tidak diganggu. Nah, di masa sekarang ketika para muslimah tak diganggu, masih relevankah jilbab?”.
Dan saya paham mengapa sang ibu narasumber menjadi emosional menjawabnya. “kita ini sudah selangkah maju!. Jangan dimundurkan lagi dengan konteks atau pemahaman yang neko-neko. Hargailah mereka yang punya semangat untuk menjalankan perintah Allah”. Sepertinya ibu narasumber lupa, bahwa kerjaan kaum liberal memang bertanya dan berwacana.
Pernyataan lebih kontroversi kerap dilontarkan oleh tokoh-tokoh liberal di Indonesia. Bahkan ada yang menyamakan baju renang dengan jilbab karena alasan situasional. “Baju renang untuk situasi berenang jilbab untuk situasi ngaji”. “Jilbab budaya arab jadi tak usah diikuti di Indonesia”. Astagfirullah...  (sekali-kali stalking dah akun twitternya Ulil atau zuhairi misrawi).
Memijakan Pemahaman
Menurut Prof Muhammad Hosen, paradigma fiqh liberal dalam memandang sebuah nash (Al Quran dan Hadist) bukan dalam harfiah teksnya (tekstual), tapi menggali untuk menemukan ruh atau semangatnya (Kontekstual). Dalam paradigma ilmiah sederhana hal ini selesai terbantai. Karena Objektivitas teks berubah menjadi subjektivitas penafsir teks. Jadi sudah tidak ilmiah dari sejak awal.
Dalam kasus penanya ini,
Bahwa para Ulama kita membedakan antara Illat dengan hikmah. Illat wajibnya jilbab adalah ayat Al Ahzab 59 tadi. Sedangkan hikmahnya, adalah agar lebih mudah dikenali sehingga tidak diganggu. Hilangnya hikmah tidak meniadakan hukum. Karena hukum berkaitan dengan Illat bukan dengan hikmah.
Dan sadarkah kita hikmah berjilbab pun belum hilang hingga sekarang, jilbab memberikan rasa aman pada wanita muslimah. Karena telah menyempurnakan perintah Allah dan Allah pun melindungi mereka dari segala gangguan.
Syaikh Muhammad Abu Zahrah pun angkat Bicara
Untuk lebih memahami apa perbedaan illat dan hikmah, marilah kita sejenak membersamai Syaikh Abu Zahrah dalam kita ushul al fiqh nya. “Hikmah ialah manfaat yang tampak ketika Allah memerintahkan sesuatu, atau terhindar dari kerusakan ketika Allah melarangnya”. Sedangkan illat adalah sifat zhahir yang tepat berkenaan dengan hukum itu sendiri. Nash-nash hukum pasti memiliki illat. Nah, sumber hukum dalam Al quran dan Hadits adalah hukum illat itu sendiri sampai ada dalil lain yang menentukan lain.
Jadi bisa kita pahami, haramnya daging babi adalah karena Allah menyatakan demikian (illat).
Sementara hikmahnya mungkin karena babi adalah medium penyebaran berbagai penyakit dan terkandung berbagai bakteri, cacing pita, dan parasit. Jadi meskipun ditemukan cara mengolah daging babi agar semua penyakit dan bakteri hilang, hukum babi dan makan daging babi tidak akan berubah meski hikmahnya telah tiada. Kaidahnya adalah hilangnya hikmah tidak dapat meniadakan hukum. Mengapa? Karena sampai hari kiamat pun, takkan ada perubahan sedikit pun dalam ayat Allah yang telah mengharamkannya.
Hal yang sama Berlaku
Juga tentang zina, mengapa zina dilarang? Jawabnya adalah karena adanya ayat ini (illat): 
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS.Al Israa. ayat 32)
Sementara hikmahnya adalah agar terhindar dari berbagai macam kerusakan, sosial, pranata keluarga, serta berbagai macam Penyakit Menular Seksual semacam Sepilis, gonorrhoe dan AIDS. Dan ini hanyala hikmah, rujukan utamanya tetaplah illat.  masih ingat kan kaidah ‘hilangnya hikmah tidak akan meniadakan hukum’ sebab ayat di Al Quran tetaplah sama hingga akhir zaman.
Jadi meskipun ditemukan berbagai macam alat kontrasepsi untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit PMS tadi dan menyebabkan hilangnya hikmah. Hukum zina tetap sama yakni haram, karena illat pada nash Al Quran tetaplah sama hingga Akhir zaman.
Wallahu alam bishawab.
Tulisan terinspirasi dari Buku Jalan Cinta Para Pejuang sub bab ABC, Karya Ust Salim A Fillah. Semoga tulisan ini jadi amal jariyah baginya dan saya sendiri semoga keciptratan pahala dari Allah SWT. Amin.
»»  READMORE...

Jumat, 12 Juli 2013

Ancaman Azab Bagi yang Meninggalkan Sholat Wajib.


“Sesungguhnya amal hamba
yang pertama kali akan
dihisab pada hari kiamat
adalah shalatnya. Apabila
shalatnya baik, dia akan
mendapatkan
keberuntungan dan
keselamatan. Apabila
shalatnya rusak, dia akan
menyesal dan merugi. Jika
ada yang kurang dari shalat
wajibnya, Allah Tabaroka wa
Ta’ala mengatakan,’Lihatlah
apakah pada hamba
tersebut memiliki amalan
shalat sunnah?’ Maka
shalat sunnah tersebut
akan menyempurnakan
shalat wajibnya yang
kurang. Begitu juga amalan
lainnya seperti itu.”
Barang siapa melalaikan
sholat, Allah SWT akan
menyiksanya dengan 15
siksaan. Enam siksaan di
dunia, tiga siksaan ketika
meninggal, tiga siksaan di
alam kubur, tiga siksaan saat
bertemu dengan Allah SWT.
DALAM DUNIA
1. Dicabut keberkahan
hidupnya
2. Dihapus amal
sholehnya
3. Dicabut keislamannya
4. Rizkinya tidak
mendapat berkah
5. Amalnya tidak
mendapat pahala
6. Do’anya ditolak Allah
SWT
SAAT SAKARATUL MAUT
7. Dicabut nyawanya
dengan kasar
8. Merasakan haus yang
amat sangat
9. Merasakan lapar yang
amat sangat
DIDALAM KUBUR
10. Badannya dihimpit
bumi
11.Kuburnya gelap gulita
12. Dinyalakan api dalam
kuburnya
DI PADANG MAHSYAR
13. Menderita sengsara,
panas, lapar dan dahaga
14. Mendapatkan marah
dan laknat dari Allah SWT
15. Tangan dan kakinya
dirantai dengan bara api
dan dilempar ke dalam
Neraka
Gambaran Azab Bagi Yang
Meninggalkan Sholat .
Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj
Rasulullah SAW, bukan saja
diperlihatkan tentang balasan
orang yang beramal baik,
tetapi juga diperlihatkan
balasan orang yang berbuat
mungkar, diantaranya siksaan
bagi yang meninggalkan
Sholat fardhu.
Mengenai balasan orang yang
meninggalkan Sholat Fardu:
“Rasulullah SAW, diperlihatkan
pada suatu kaum yang
membenturkan kepala mereka
pada batu, Setiap kali
benturan itu menyebabkan
kepala pecah, kemudian ia
kembali kepada keadaan
semula dan mereka tidak
terus berhenti melakukannya.
Lalu Rasulullah bertanya:
“Siapakah ini wahai Jibril”?
Jibril menjawab: “Mereka ini
orang yang berat kepalanya
untuk menunaikan Sholat
fardhu”. (Riwayat Tabrani).
Orang yang meninggalkan
Sholat akan dimasukkan ke
dalam Neraka Saqor. Maksud
Firman Allah Ta’ala: “..Setelah
melihat orang-orang yang
bersalah itu, mereka berkata:
“Apakah yang menyebabkan
kamu masuk ke dalam Neraka
Saqor ?”. Orang-orang yang
bersalah itu menjawab: “kami
termasuk dalam kumpulan
orang-orang yang tidak
mengerjakan Sholat” Al-ayat.
Saad bin Abi Waqas bertanya
kepada Rasulullah SAW
mengenai orang yang
melalaikan Sholat, maka jawab
Baginda SAW, “yaitu
mengakhirkan waktu Sholat
dari waktu asalnya hingga
sampai waktu Sholat lain.
Mereka telah menyia-nyiakan
dan melewatkan waktu Sholat,
maka mereka diancam dengan
Neraka Wail”.
Ibn Abbas dan Said bin Al-
Musaiyib turut menafsirkan
hadist di atas “yaitu orang
yang melengah-lengahkan
Sholat mereka sehingga
sampai kepada waktu Sholat
lain, maka bagi pelakunya jika
mereka tidak bertaubat Allah
menjanjikan mereka Neraka
Jahannam tempat
kembalinya”.
Maksud Hadist: “Siapa
meninggalkan sholat dengan
sengaja, maka sesungguhnya
dia telah kafir dengan nyata”.
Berdasarkan hadist ini,
Sebagaian besar ulama
(termasuk Imam Syafi’i)
berfatwa: Tidak wajib
memandikan, mengkafankan
dan mensholatkan jenazah
seseorang yang meninggal
dunia dan mengaku Islam,
tetapi tidak pernah
mengerjakan sholat. Bahkan,
ada yang mengatakan haram
mensholatkanya.
Siksa Neraka Sangat
Mengerikan
Mereka yang meninggalkan
sholat akan menerima siksa di
dunia dan di alam kubur yang
terdiri dari tiga siksaan.
Tiga jenis siksa di dalam
kubur yaitu:
1. Kuburnya akan berhimpit-
himpit serapat mungkin
sehingga meremukkan tulang-
tulang dada.
2. Dinyalakan api di dalam
kuburnya dan api itu akan
membelit dan membakar
tubuhnya siang dan malam
tiada henti-henti.
3.Akan muncul seekor ular
yang bernama “Sujaul Aqra” Ia
akan berkata, kepada si mati
dengan suaranya bagai
halilintar: “Aku disuruh oleh
Allah memukulmu sebab
meninggalkan sholat dari
Subuh hingga Dhuhur,
kemudian dari Dhuhur ke
Asar, dari Asar ke Maghrib
dan dari Maghrib ke Isya’
hingga Subuh”. Ia dipukul dari
waktu Subuh hingga naik
matahari, kemudian dipukul
dan dibenturkan hingga
terjungkal ke perut bumi
karena meninggalkan Sholat
Dhuhur. Kemudian dipukul
lagi karena meninggalkan
Sholat Asar, begitulah
seterusnya dari Asar ke
Maghrib, dari Maghrib ke
waktu Isya’ hingga ke waktu
Subuh lagi. Demikianlah
seterusnya siksaan oleh
“Sajaul Aqra” hingga hari
Qiamat.
Didalam Neraka Jahanam
terdapat wadi (lembah) yang
didalamnya terdapat ular-ular
berukuran sebesar tengkuk
unta dan panjangnya sebulan
perjalanan. Kerjanya tiada lain
kecuali menggigit orang-orang
yang tidak mengerjakan Sholat
semasa hidup mereka. Bisa
ular itu juga menggelegak di
di badan mereka selama 70
tahun sehingga hancur
seluruh daging badan mereka.
Kemudian tubuh kembali
pulih, lalu digigit lagi dan
begitulah seterusnya.
Maksud Hadist: “orang yang
meninggalkan sholat, akan
Allah hantarkan kepadanya
seekor ular besar bernama
“Suja’ul Akra”, yang matanya
memancarkan api, mempunyai
tangan dan berkuku besi,
dengan membawa alat
pemukul dari besi berat”.


»»  READMORE...

Sabtu, 15 Juni 2013

Karena Ku Cinta Baginda Nabi (part 2)


Oleh:
Muhammad Singgih




Teringat kisah Hamid, dalam serial TV itu. Betapa akhlaknya melangit, perilakunya terpuji. Bahkan ia sampai meminta izin untuk mengambil buku yang sudah dibuang oleh pemiliknya di tempat sampah. Betapa besar cintanya pada baginda Nabi, tingkah lakunya adalah cerminan cintanya. Mungkin sebagian pembaca ada yang pesimis, seraya berkata “mana ada sosok seperti itu di Indonesia, di zaman sekarang?. Di timur tengah, mesir atau arab mungkin banyak itu pun di zaman dahulu kala”. Demi Allah, besar harapan saya akan muncul sosok-sosok seperti Hamid yang kelak akan memimpin Indonesia yang sejatinya adalah sepenggal jannah. Semoga.

Mari lanjutkan perkenalan kita dengan Baginda Nabi.
Beliau orang besar, tak ada yang membantah. Hidup bersama pamannya sepeninggal wafat kakeknya. Menggembala kambing untuk melanjutkan hidupnya. Jauh dari hingar bingar politik, tetapi imajinasinya membangun sebuah kepemimpinan pada kambing-kambingnya seperti yang ia saksikan saat sang kakek memimpin makkah.
Beliau seorang panglima, administrator yang tak ada bandingnya dalam sejarah. Sepuluh tahun di Madinah, 30 an ghazwah beliau pimpin sendiri ditambah dengan 300 datasemen yang beliau bentuk. Dari segi jumlah saja, Napoleon Bonaparte, George Washington, atau Simon Bolivar tidak ada seujung kukunya.
Wibawanya berbeda dengan Kisra maupun Caesar. Bahkan Umar pernah menangis menyaksikan belilau tidur beralas tikar kulit kasar yang disusun rerumputan. “sungguh yaa Rasulullah, Kisra dan Caesar bersandar di atas bantal dan permadani suteranya, palayan pun hilir mudik melayani mereka, sementara kedudukanmua di sisi Allah jauh lebih mulia”. Begitulah kira-kira keluh Umar. “Apakah engkau tidak ridha melihat mereka mendapat dunia sedangkan kita menyimpan akhirat wahai Ibnul Khaththab”. Begitulah jawab Nabi dengan senyum termanis yang pernah disaksikan dunia.
Beliau adalah negosiator ulung, paling brilian. Ingatkah antum semua sengketa Hajar Aswad dan perjanjian Hudaibiyah adalah sedikit kiprahnya. Beliau juga melakukan korespondensi paling berani dengan berkirim surat kepada penguasa-penguasa sekelas Caesar atau pun kisra di zaman nya. Peristiwa ini pula lah yang belakangan bisa kita gunakan sebagai bantahan kaum Liberal pengusung pluralisme Agama, yang menyatakan semua agama benar menuju satu keselamatan.
Beliau adalah suami yang sempat mengajak istri balap lari. Atau meredakan kecemburuan sag istri dengan memencet hidungnya. Panggilan mesra Khumairaa pada Aisyah yang pipinya selalu merona merah. Di sela masa sibuk memimpin umat muslim, beliau sempat menambal baju, menggiling gandum bahkan memerah susu sapi untuk santapanya.
Begitu luwes, tidak kaku, pemimpin besar ini menjadi ayah yang menimang Ibrahim sang putera.
Beliau adalah teman duduk yang mengasyikan, candaannya tak pernah berbumbu dusta. “Wahai pemilik dua telinga!” panggilan pada Az Zubair yang membuat para sahabat lainnnya tergelak, tertawa. Penampilannya begitu sederhana, tak ingin berbeda dari sahabatnya. Tetapi tetap saja beliau selalu rapi, wangi, dan meyejukkan mata. Baginda Nabi, baru sebatas ini cinta kami pada mu...
Mari bersenandung bersama Raihan:
Terpadam api biara majusi
Runtuhlah istana kisra Parsi
Mekkah diterangi cahaya putih
Tanda lahir Nabi anak yatim.

Kepada semesta ia membawa Risalah Al Quran, Kalamullah yang dinuzulkan berangsur-angsur sejak dari bukit cahaya ‘jabal nur’. Pada malam qadar yang mengungguli seribu bulan, menggemakan Iqra menjadi tonggak peradaban, menyemaikan kata cinta, adil, setara, taat, merdeka, hak asasi, dan seterusnya.


Daftar pustaka:
Karena Ku Cinta Baginda Nabi (ust Habiburrahman el shirazy)
Kajian ahad pagi KH Fakhrudin Al Bantani
Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslim (ust Salim a Fillah)
Dll.
Semoga jadi sumber jariyah bagi penulis pribadi dan tiga tokoh di atas. Amin 
»»  READMORE...

Senin, 10 Juni 2013

Karena Ku Cinta Baginda Nabi (part 1)


        Mungkin sebagian teman-teman ada yang melihat serial TV beberapa waktu lalu yang berjudul “Karena Ku Cinta Baginda Nabi”. Film garapan Ust Habiburrahman El Shirazy ini cukup membuat perasaan tercampur aduk. Menceritakan seorang anak yang sedang dalam proses tahfidzul Quran. Dengan akhlak melangit bak malaikat, mengarungi kerasnya kehidupan, ditinggal wafat ayahnya dan kondisi ibunya yang buta.  Itulah tabiat kang abik yang senantiasa menampilkan tokoh-tokoh melangit yang diharapkan jadi panutan bagi anak negeri. Berbagai akhlak terpuji dilakukan oleh sang tokoh utama, seperti mengembalikan dompet milik orang kafir atau sekadar membantu orang tua yang kini jarang dilakukan oleh anak-anak masa kini. Di akhir cerita dijelaskan karena kecintaannya pada Nabi Muhammad SAW lah yang menyebabkan akhlak itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Terlepas dari cerita film di atas, saya ingin menyampaikan suatu artikel atau lebih tepatnya re share dari satu kajian mengenai sejarah singkat kehidupan Nabi Muhammad, tokoh panutan, nabi akhir zaman, dan pembawa risalah Al Quran.
Berangkat dari idiom tak kenal maka tak cinta, maka marilah kita mulai perkenalan singkat kita dengan sang Nabi. Agar kecintaan kita pada baginda Nabi semakin bertambah, sehingga bisa tercermin dari akhlak kita sehari-hari. Selain itu penulis juga ingatkan bahwa, wajib atas seseorang yang mukalaf usia 15 tahun berakal sehat untuk mengetahui Nama, tempat dan tanggal kelahiran, Nasab nabi Muhammad SAW terutama dari jalur ayahnya. Jika tidak tahu, maka berdosalah kita. atau paling tidak meski tidak menghafalnya kita tidak boleh membantah jika diberi penjelasan tentangnya.
Mari kita berkenalan dengan baginda Nabi.
Ialah Muhammad, beberapa literatur menyebutkan nama ini diberikan langsung oleh Allah SWT. sebelum alam ini, jagat raya ini tercipta. Bahkan ia menjadi sebab diciptakannya alam ini beserta isinya. Bahkan ia menjadi sebab diciptanya Iblis dan malaikat. Kurang lebih sekitar 200 nama dan gelar disematkan padanya –selain Muhammad, ia juga kerap disapa Ahmad atau gelar al amin yang disandangnya sejak masih muda.
Nabi Muhammad SAW lahir di Mekkah pada hari senin sebelum subuh tanggal  20 april 571 M atau 12 Rabiul Awal tahun gajah, tepatnya 50 hari setelah penyerbuan tentara gajah.  
Nasab Beliau.
Dari jalur ayahnya adalah sebagai berikut:
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaaf bin Qushay bin KILAB bin Murroh bin ka ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nudlor bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas  bin Mudlor bin Nizar bin ma’ad bin Adnan.
Sementara dari jalur ibunya adalah sebagai berikut:
Muhammad bin Siti Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin KILAB

Jadi Nasab ibu dan bapak Rasulullah bertemu pada kakek buyutnya yang bernama Kilab.  

Kisah tak terungkap
Berbagai kisah meliputi sepanjang perjalanan hidupnya yang tak terungkap atau kita yang tak mau belajar di majlis ilmu sehingga kisah-kisah bertinta emas tidak datang pada kita.
Adalah kakek nabi Abdul Muthalib yang merupakan ayah dari Abdullah (ayah Nabi) dan Abu Tholib (paman nabi). Suatu ketika saat Abdullah (ayah nabi) belum lahir, saat ia masih mempunyai sembilan anak, Abdul Mutholib pernah bernadzar ‘jika ia mempunyai anak lagi sehingga anaknya berjumlah sepuluh, maka ia akan menyembelih salah satu anaknya’. Tak disangka tak diduga, lahir lah Abdullah, ialah anaknya yang ke sepuluh. Maka nadzar adalah janji dan janji adalah hutang, fitrahnya lah untuk segera dilunasi.
Maka dilakukanlah semacam undian untuk menentukan siapa yang dikorbankan dan disembelih untuk melunasi nadzar tersebut. Konon inilah asal muasal diadakannya arisan, bedanya adalah.. ah tentu pembaca bisa terka sendiri. Setelah dilakukan beberapa kali berturut-turut nama yang keluar adalah Abdullah (ayah Nabi). Sehingga diputuskan Abdullah yang akan dikorbankan.
Mengingat Abdul Mutholib adalah tokoh panutan, orang penting pada strata kehidupan masyarakat qurais dikhawatirkan kegiatan semacam ini akan diikuti oleh masyarakat dan membudaya. Oleh sebab itu dilakukan lah perundingan dan diupayakan bisa ditebus dengan obyek yang lain. Setelah perundingan dan konsultasi dengan pemuka agama setempat, maka diputuskan untuk menggantinya dengan 100 ekor unta. Dan inilah asal muasal dasar hukum membunuh seseorang dengan tidak sengaja.
Nabi pernah berkata, dia adalah keturunan dari dua orang yang hendak disembelih namun batal, tidak jadi.

Abdullah adalah sosok pria yang shalih, ia tampan bahkan beberapa literatur menyebutkan hampir sekualitas nabi Yusuf as. Ketika akhirnya memilih Siti Aminah gadis suci anggun nan shalihah, 200 orang wanita cantik sekualitas Syahrini atau pun Luna Maya stres dan memilih mengakhiri hidupnya.
Ketika menikah, dan menjalani ibadah farji nya, langit dan bumi ramai menjadi gaduh. Hewan-hewan ribut dan konon mereka berbicara dengan bahasa arab “hari ini nabi akhir zaman ada di rahim wanita muslim” begitu suaranya.

Sekilas kisah hidup Baginda Nabi
Nabi Muhammad SAW menjadi yatim saat dua bulan dalam rahim Siti Aminah, ayahnya –Abdullah wafat saat hendak pergi berbelanja ke Madinah. Sedangkan ibunya wafat pada saat nabi Muhammad berusia 6 tahun saat perjalanan untuk jiarah ke makam ayahnya. Jadilah sang nabi Muhammad yatim-piatu. Kisah sedih tak sampai disini, nampaknya Allah SWT sedang menguji hamba pilihannya. Usia 8 tahun kakeknya Abdul Mutholib dipanggil oleh Allah.
Dalam kesedihan kesengsaraan, beliau tumbuh menjadi orang hebat, Nabi akhir zaman. Kenabiannya diramalkan oleh seorang rahib saat nabi istirahat siang, nabi Muhammad duduk di bawah pohon yang sama dengan pohon yang disinggahi oleh nabi Musa as. Di usia 12 tahun beliau tumbuh menjadi manajer unit usaha internasional Abu Thalib hingga ke Syams. Dialah kunci sukses kafilah dengan kejujurannya. Usia 26 ia menjadi pengelola utama bisnis besar yang di investasikan oleh Khadijah. Dia enterpreneur dengan sifat nabawi: jujur, kapabel, smart, informatif.

Bersambung ke part 2..... AFWAN

Daftar pustaka:
Karena Ku Cinta Baginda Nabi (ust Habiburrahman el shirazy)
Kajian ahad pagi KH Fakhrudin Al Bantani
Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslim (ust Salim a Fillah)
Dll.
Semoga jadi sumber jariyah bagi penulis pribadi dan tiga tokoh di atas. Amin

»»  READMORE...