B
|
Minggu, 16 November 2014
Sekilas mengenai Prophet Parenting
Senin, 03 Maret 2014
Syaikh Abu Zahrah bicara Illat dan Hikmah
Dalam suatu seminar sarasehan Jilbab Syari di suatu kampus (bukan kampus Saya lho meskipun kampus saya..... ah sudahlah), untuk merumuskan ketentuan busana muslimah mahasiswinya, terjadilah perbincangan hangat yang timbulkan hasrat untuk posting tulisan ini. Sekaligus tunaikan janji pada teman-teman FB dan Twitter. Singkat kisah, diskusi berjalan menarik. Narasumber menceritakan perjuangannya saat kuliah di Amerika dalam berbusana muslimah. Ekspresi pejuang jilbab pada dirinya terasa saat ia menampilkan puisi The Way not Taken nya Robert Frost dalam slide pertamanya.
Tugas Liberal adalah bertanya
Salah seorang audiens dengan pertanyaan serius berbekal (kalo ngga salah) kitab Lubaabun Nuqul fii Asbaabin Nuzuul (Imam As Suyuthi) melontarkan pertanyaan canggih: “Kalau kita baca latar belakang turunnya Surat Al Ahzab 59, maka kita akan menemukan konteksnya.
Hai Nabi,katakanlah pada istri- istrimu,anak-anak perempuanmu dan istri-istri
orang mukmin:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.”Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.33 al-Azhab:59)r
“Pada waktu itu, ada seorang muslimah yang diganggu oleh beberapa pemuda. Maka dia mengadu pada Rasulullah SAW, hingga beliau memanggil mereka. Ketika ditanya mengapa mengganggu, mereka menjawab bahwa muslimah itu tidak menunjukan ciri muslimah, tak dikenali entah merdeka atau budak. Maka turunlah ayat ini yang konteksnya adalah identitas dan perlindungan. Jadi intinya bukan jilbabnya, tapi agar ia tidak diganggu. Nah, di masa sekarang ketika para muslimah tak diganggu, masih relevankah jilbab?”.
Dan saya paham mengapa sang ibu narasumber menjadi emosional menjawabnya. “kita ini sudah selangkah maju!. Jangan dimundurkan lagi dengan konteks atau pemahaman yang neko-neko. Hargailah mereka yang punya semangat untuk menjalankan perintah Allah”. Sepertinya ibu narasumber lupa, bahwa kerjaan kaum liberal memang bertanya dan berwacana.
Pernyataan lebih kontroversi kerap dilontarkan oleh tokoh-tokoh liberal di Indonesia. Bahkan ada yang menyamakan baju renang dengan jilbab karena alasan situasional. “Baju renang untuk situasi berenang jilbab untuk situasi ngaji”. “Jilbab budaya arab jadi tak usah diikuti di Indonesia”. Astagfirullah... (sekali-kali stalking dah akun twitternya Ulil atau zuhairi misrawi).
Memijakan Pemahaman
Menurut Prof Muhammad Hosen, paradigma fiqh liberal dalam memandang sebuah nash (Al Quran dan Hadist) bukan dalam harfiah teksnya (tekstual), tapi menggali untuk menemukan ruh atau semangatnya (Kontekstual). Dalam paradigma ilmiah sederhana hal ini selesai terbantai. Karena Objektivitas teks berubah menjadi subjektivitas penafsir teks. Jadi sudah tidak ilmiah dari sejak awal.
Dalam kasus penanya ini,
Bahwa para Ulama kita membedakan antara Illat dengan hikmah. Illat wajibnya jilbab adalah ayat Al Ahzab 59 tadi. Sedangkan hikmahnya, adalah agar lebih mudah dikenali sehingga tidak diganggu. Hilangnya hikmah tidak meniadakan hukum. Karena hukum berkaitan dengan Illat bukan dengan hikmah.
Dan sadarkah kita hikmah berjilbab pun belum hilang hingga sekarang, jilbab memberikan rasa aman pada wanita muslimah. Karena telah menyempurnakan perintah Allah dan Allah pun melindungi mereka dari segala gangguan.
Syaikh Muhammad Abu Zahrah pun angkat Bicara
Untuk lebih memahami apa perbedaan illat dan hikmah, marilah kita sejenak membersamai Syaikh Abu Zahrah dalam kita ushul al fiqh nya. “Hikmah ialah manfaat yang tampak ketika Allah memerintahkan sesuatu, atau terhindar dari kerusakan ketika Allah melarangnya”. Sedangkan illat adalah sifat zhahir yang tepat berkenaan dengan hukum itu sendiri. Nash-nash hukum pasti memiliki illat. Nah, sumber hukum dalam Al quran dan Hadits adalah hukum illat itu sendiri sampai ada dalil lain yang menentukan lain.
Jadi bisa kita pahami, haramnya daging babi adalah karena Allah menyatakan demikian (illat).
Sementara hikmahnya mungkin karena babi adalah medium penyebaran berbagai penyakit dan terkandung berbagai bakteri, cacing pita, dan parasit. Jadi meskipun ditemukan cara mengolah daging babi agar semua penyakit dan bakteri hilang, hukum babi dan makan daging babi tidak akan berubah meski hikmahnya telah tiada. Kaidahnya adalah hilangnya hikmah tidak dapat meniadakan hukum. Mengapa? Karena sampai hari kiamat pun, takkan ada perubahan sedikit pun dalam ayat Allah yang telah mengharamkannya.
Hal yang sama Berlaku
Juga tentang zina, mengapa zina dilarang? Jawabnya adalah karena adanya ayat ini (illat):
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS.Al Israa. ayat 32)
Sementara hikmahnya adalah agar terhindar dari berbagai macam kerusakan, sosial, pranata keluarga, serta berbagai macam Penyakit Menular Seksual semacam Sepilis, gonorrhoe dan AIDS. Dan ini hanyala hikmah, rujukan utamanya tetaplah illat. masih ingat kan kaidah ‘hilangnya hikmah tidak akan meniadakan hukum’ sebab ayat di Al Quran tetaplah sama hingga akhir zaman.
Jadi meskipun ditemukan berbagai macam alat kontrasepsi untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit PMS tadi dan menyebabkan hilangnya hikmah. Hukum zina tetap sama yakni haram, karena illat pada nash Al Quran tetaplah sama hingga Akhir zaman.
Wallahu alam bishawab.
Tulisan terinspirasi dari Buku Jalan Cinta Para Pejuang sub bab ABC, Karya Ust Salim A Fillah. Semoga tulisan ini jadi amal jariyah baginya dan saya sendiri semoga keciptratan pahala dari Allah SWT. Amin.
Jumat, 12 Juli 2013
Ancaman Azab Bagi yang Meninggalkan Sholat Wajib.
“Sesungguhnya amal hamba
yang pertama kali akan
dihisab pada hari kiamat
adalah shalatnya. Apabila
shalatnya baik, dia akan
mendapatkan
keberuntungan dan
keselamatan. Apabila
shalatnya rusak, dia akan
menyesal dan merugi. Jika
ada yang kurang dari shalat
wajibnya, Allah Tabaroka wa
Ta’ala mengatakan,’Lihatlah
apakah pada hamba
tersebut memiliki amalan
shalat sunnah?’ Maka
shalat sunnah tersebut
akan menyempurnakan
shalat wajibnya yang
kurang. Begitu juga amalan
lainnya seperti itu.”
Barang siapa melalaikan
sholat, Allah SWT akan
menyiksanya dengan 15
siksaan. Enam siksaan di
dunia, tiga siksaan ketika
meninggal, tiga siksaan di
alam kubur, tiga siksaan saat
bertemu dengan Allah SWT.
DALAM DUNIA
1. Dicabut keberkahan
hidupnya
2. Dihapus amal
sholehnya
3. Dicabut keislamannya
4. Rizkinya tidak
mendapat berkah
5. Amalnya tidak
mendapat pahala
6. Do’anya ditolak Allah
SWT
SAAT SAKARATUL MAUT
7. Dicabut nyawanya
dengan kasar
8. Merasakan haus yang
amat sangat
9. Merasakan lapar yang
amat sangat
DIDALAM KUBUR
10. Badannya dihimpit
bumi
11.Kuburnya gelap gulita
12. Dinyalakan api dalam
kuburnya
DI PADANG MAHSYAR
13. Menderita sengsara,
panas, lapar dan dahaga
14. Mendapatkan marah
dan laknat dari Allah SWT
15. Tangan dan kakinya
dirantai dengan bara api
dan dilempar ke dalam
Neraka
Gambaran Azab Bagi Yang
Meninggalkan Sholat .
Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj
Rasulullah SAW, bukan saja
diperlihatkan tentang balasan
orang yang beramal baik,
tetapi juga diperlihatkan
balasan orang yang berbuat
mungkar, diantaranya siksaan
bagi yang meninggalkan
Sholat fardhu.
Mengenai balasan orang yang
meninggalkan Sholat Fardu:
“Rasulullah SAW, diperlihatkan
pada suatu kaum yang
membenturkan kepala mereka
pada batu, Setiap kali
benturan itu menyebabkan
kepala pecah, kemudian ia
kembali kepada keadaan
semula dan mereka tidak
terus berhenti melakukannya.
Lalu Rasulullah bertanya:
“Siapakah ini wahai Jibril”?
Jibril menjawab: “Mereka ini
orang yang berat kepalanya
untuk menunaikan Sholat
fardhu”. (Riwayat Tabrani).
Orang yang meninggalkan
Sholat akan dimasukkan ke
dalam Neraka Saqor. Maksud
Firman Allah Ta’ala: “..Setelah
melihat orang-orang yang
bersalah itu, mereka berkata:
“Apakah yang menyebabkan
kamu masuk ke dalam Neraka
Saqor ?”. Orang-orang yang
bersalah itu menjawab: “kami
termasuk dalam kumpulan
orang-orang yang tidak
mengerjakan Sholat” Al-ayat.
Saad bin Abi Waqas bertanya
kepada Rasulullah SAW
mengenai orang yang
melalaikan Sholat, maka jawab
Baginda SAW, “yaitu
mengakhirkan waktu Sholat
dari waktu asalnya hingga
sampai waktu Sholat lain.
Mereka telah menyia-nyiakan
dan melewatkan waktu Sholat,
maka mereka diancam dengan
Neraka Wail”.
Ibn Abbas dan Said bin Al-
Musaiyib turut menafsirkan
hadist di atas “yaitu orang
yang melengah-lengahkan
Sholat mereka sehingga
sampai kepada waktu Sholat
lain, maka bagi pelakunya jika
mereka tidak bertaubat Allah
menjanjikan mereka Neraka
Jahannam tempat
kembalinya”.
Maksud Hadist: “Siapa
meninggalkan sholat dengan
sengaja, maka sesungguhnya
dia telah kafir dengan nyata”.
Berdasarkan hadist ini,
Sebagaian besar ulama
(termasuk Imam Syafi’i)
berfatwa: Tidak wajib
memandikan, mengkafankan
dan mensholatkan jenazah
seseorang yang meninggal
dunia dan mengaku Islam,
tetapi tidak pernah
mengerjakan sholat. Bahkan,
ada yang mengatakan haram
mensholatkanya.
Siksa Neraka Sangat
Mengerikan
Mereka yang meninggalkan
sholat akan menerima siksa di
dunia dan di alam kubur yang
terdiri dari tiga siksaan.
Tiga jenis siksa di dalam
kubur yaitu:
1. Kuburnya akan berhimpit-
himpit serapat mungkin
sehingga meremukkan tulang-
tulang dada.
2. Dinyalakan api di dalam
kuburnya dan api itu akan
membelit dan membakar
tubuhnya siang dan malam
tiada henti-henti.
3.Akan muncul seekor ular
yang bernama “Sujaul Aqra” Ia
akan berkata, kepada si mati
dengan suaranya bagai
halilintar: “Aku disuruh oleh
Allah memukulmu sebab
meninggalkan sholat dari
Subuh hingga Dhuhur,
kemudian dari Dhuhur ke
Asar, dari Asar ke Maghrib
dan dari Maghrib ke Isya’
hingga Subuh”. Ia dipukul dari
waktu Subuh hingga naik
matahari, kemudian dipukul
dan dibenturkan hingga
terjungkal ke perut bumi
karena meninggalkan Sholat
Dhuhur. Kemudian dipukul
lagi karena meninggalkan
Sholat Asar, begitulah
seterusnya dari Asar ke
Maghrib, dari Maghrib ke
waktu Isya’ hingga ke waktu
Subuh lagi. Demikianlah
seterusnya siksaan oleh
“Sajaul Aqra” hingga hari
Qiamat.
Didalam Neraka Jahanam
terdapat wadi (lembah) yang
didalamnya terdapat ular-ular
berukuran sebesar tengkuk
unta dan panjangnya sebulan
perjalanan. Kerjanya tiada lain
kecuali menggigit orang-orang
yang tidak mengerjakan Sholat
semasa hidup mereka. Bisa
ular itu juga menggelegak di
di badan mereka selama 70
tahun sehingga hancur
seluruh daging badan mereka.
Kemudian tubuh kembali
pulih, lalu digigit lagi dan
begitulah seterusnya.
Maksud Hadist: “orang yang
meninggalkan sholat, akan
Allah hantarkan kepadanya
seekor ular besar bernama
“Suja’ul Akra”, yang matanya
memancarkan api, mempunyai
tangan dan berkuku besi,
dengan membawa alat
pemukul dari besi berat”.
Sabtu, 15 Juni 2013
Karena Ku Cinta Baginda Nabi (part 2)
Muhammad Singgih

Teringat kisah Hamid, dalam serial TV itu. Betapa akhlaknya melangit, perilakunya terpuji. Bahkan ia sampai meminta izin untuk mengambil buku yang sudah dibuang oleh pemiliknya di tempat sampah. Betapa besar cintanya pada baginda Nabi, tingkah lakunya adalah cerminan cintanya. Mungkin sebagian pembaca ada yang pesimis, seraya berkata “mana ada sosok seperti itu di Indonesia, di zaman sekarang?. Di timur tengah, mesir atau arab mungkin banyak itu pun di zaman dahulu kala”. Demi Allah, besar harapan saya akan muncul sosok-sosok seperti Hamid yang kelak akan memimpin Indonesia yang sejatinya adalah sepenggal jannah. Semoga.
